Rabu, 24 Agustus 2011

Mementhomol part I


Mementhomol*
Mengenang Kematian

Kalian yang sudah mengalami kehilangan mungkin tak ingin mengalaminya kembali.Kehilangan seseorang yang kita sayangi mungkin akan membuat kita terpuruk.Begitu pun dengan Lee Joung yang tak bisa melerakan kepergian istrinya.Hal ini membuat kedua anaknya Mei dan Hwa tersiksa karena ayahnya berubah menjadi over protektif kepada mereka setelah kepergian ibunda tercintanya.Keterpurukan Mei dan Hwa pun semakin menjadi-jadi saat seluruh teman disekolahnya tahu tentang situasi keluarganya saat ini.

Agnes Larasati**)
8/27/2010

 



1
Ayahku Yang Tak Bisa Melupakan Kematian Ibuku
Duduk aku termenung ditengah malam yang dingin ini.Ku perhatikan disekelilingku,tak ada apapun kecuali rumput kering yang bergoyang dan dedaunan yang terbang terbawa oleh angin malam.Ditegah kegelapan malam yang sunyi dan dingin ini aku memikirkan sesuatu yang sudah sangat lama menghilang dari hidupku,entah apa itu aku pun tak tahu.Aku merasa seperti terjebak dihari yang sama dalam waktu yang aku sendiri pun tak tahu berapa lamanya.Seperti orang yang dicuci otaknya,mungkin begitulah keadaan ku sekarang ini.Sedikit sekali yang bisa ku ingat dari apa yang telah terjadi selama ini.Kini dihidupku tak ada lagi tawa yang ada hanya memar-memar yang membiru ditubuhku.Ayahku yang melakukan semua ini.Entah karena apa dia menjadi overprotektif kepada ku dan kepada adik perempuanku.Seakan dia tak mau lagi merasa kehilangan,,yah kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Terkadang aku berfikir apa sebenarnya yang dilakukan ayahku.Dia bilang dia mencintai kami tapi dia terus saja memukuli kami setiap kami terlambat pulang sekolah dari jam yang ditentukannya.Jangankan untuk main bersama teman-temanku untuk keluar dari rumah dan sekedar duduk-duduk didepan teras rumah pun aku harus mati-matian meminta izin kepadanya.
“Apa Ayahku gila,,,,,??!!!” itulah yang ada dibenakku sekarang.
Aku merasa seakan malam berjalan dengan begitu lambatnya dan siang berlalu dengan cepatnya.Aku bahkan lupa bangaimana rasa hangatnya matahari pagi atau teriknya panas matahari disiang hari.Kini aku dan adikku sudah seperti orang asing bagi orang-orang disekeliling kami.Kami merasa diasingkan dari dunia luar oleh ayah kami sendiri.Ayahku pun sekarang sudah sangat jarang keluar rumah kerjanya hanya dikamar mengurung dirinya didalam kamarnya yang gelap dan lembab itu.Dia tak setegar biasanya.Kematian ibuku membuatnya merasa sangat terpukul.Begitu pun dengan ku dan adikku tapi kami sudah belajar untuk mengikhlaskan kepergiannya.Sudah dua tahun lebih ibu kami meninggal tapi ayah tak pernah bisa mengikhlaskannya.Aku bahkan sudah lupa bagaimana wajah ibuku sendiri.Karena ayah tak mengizinkan kami menyentuh barang-barang peninggalan ibu.
Ayahku yang tak bisa melupakan kematian ibuku.Membuat kami ikut tersiksa.Terkadang kami prihatin akan keadaan ayah tapi kami juga takut dia marah dan mengamuk,jika sudah begitu kamilah yang akan kena imbasnya.Dipukuli dengan sebatang rotan yang kira-kira panjangnya 50 cm cukup menyakitkan bahkan lebih dari menyakitkan.Kekuatan mentallah yang membuatku bertahan kareana bagaimana pun keadaanya dan bagaimana pun perlakuan ayahku kepadaku dan kepada adikku dia tetaplah ayah kami.Ayah yang sangat kami cintai dan kami sayangi.
***
2
Akhir Musim Panas
Bersama Mario,Chant dan Shi-lah aku berbagi cerita hidupku yang penuh duka ini.Mereka selalu ada disampingku saat aku membutuhkannya.Bersama merekalah aku bisa tertawa lepas dan melupakan semua masalah yang ada.Aku sangat menyayangi ketiga sahabat baikku ini.Aku sudah menganggap mereka seperti saudara ku sendiri.Kami suka mengahabiskan waktu bersama terutama saat liburan akhir musim panas.Aku masih ingat saat liburan akhir musim panas tahun lalu kami pergi kepantai.Bermain bersama,membangun istana pasir,mengumpulkan kerang untuk dibuat kalung dan menyaksikan matahari terbenam diakhir musim panas tahun lalu bersama mereka menjadi pelengkap liburanku yang singkat ini.
Namun tidak untuk tahun ini.Sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh ku,Chant,dan Shi terjadi.Mario,dia menghianati persahabatan kami yang kami bangun sejak kecil.Dia menceritakan semua tentang kehidupanku yang penuh duka dengan teman-teman disekolah.Dia bahkan mengatakan yang tidak-tidak tentang ayahku.Aku tahu ayah jahat tapi aku juga tahu kalau dia tidak sejahat itu.Tak pernah terlintas dibenakku jika Mariolah dibalik semua ini.Sungguh teganya dia memfitnah ayahku sekeji itu.

“Tahukah kalian bagaimana ekspresi Chant dan Shi saat mengetahui jika Mariolah orang dibalik semua ini?”.

Mereka sangat terkejut,bahkan Shi sampai sesak napas mendengarnya.Kami sangat mengenal Mario.Dia tak mungkin sejahat itu tapi apa yang membuatnya seperti ini kami pun tak tahu.Kini aku dan adikku harus semakin tertunduk saat dating kesekolah.Semua orang disekolah sedang asik-asiknya membicarakan tentang kami dan keluarga kami.Bahkan mereka bisa dengan mudahnya mencibir kami.Terdiam dan tertunduk itulah yang bisa kami lakukan saat ini.
Masalah penghianatan Mario tak hanya menambah panjang daftar masalhku tapi ini juga membuatku semakin terpuruk.Begitu sakitnya hati ini oleh penghianatannya.Bahkan jika dibandingkan dengan pukulan rotan ayah yang bersarang ditubuhku lebih sakit penghianatan Mario ini.Dia sahabatku yang kukenal dengan baik dan yang kupercaya tega melakukan fitnah yang keji ini.Namun aku harus tetap tegar,karena ini hanya segelintir dari terpaan ujian yang dating.Kini kedua sahabat baikku yang tersisalah yang menjadi penyemangatku.Mereka terus saja tak henti-hentinya meghibur dan menyemangatiku.Satu hal yang ingin ku lakukan sebelum aku memulai untuk melupakan Mario adalah aku ingin mengatakan


“Mario,,,kau adalah sahabat yang baik.Terima kasih atas semua yang kau lkukuan selama ini untukku.Maaf  jika aku pernah berbuat salah kepadamu atau telah menyakiti mu.Tapi ketahuilah satu hal sobat sebenci apa pun dirimu padaku saat ini,aku takkan pernah berpikir sedetik pun untuk melupakanmu”.
***
3
Hujan Turun Di Lockstok

            Hari ini saat makan siang ayah tak ada dikursinya.Entah apa yang dilakukannya didalam kamarnya yang gelap dan lembab itu.Ini tak seperti biasanya.Suasana saat makan yang biasanya meneganggkan menjadi biasa-biasa saja saat ayah tak ada saat makan siang.

            “Xiao…..mengapa ayah tak turun untuk makan siang?”.
            “Aku tak tahu Mei,,,,dia hanya bilang antarkan saja makanannya kekamarnya”.
            “Aku tak yakin…..pasti kau tahu sesuatu”.
            “Aku tak tahu apa-apa Mei.Sekarang begegaslah selesaikan makan mu dan ajak adikmu pergi ke gudang dibelakang rumah.Ku harap kau membersihkannya hingga benar-benar bersih”.
            “Kau bohong Xiao…kau itu orang kepercayaan ayah mana mungkin kau tak tahu dan soal pekerjaan tadi bukannya itu tugas mu”.
            “Pergilah kegudang belakang rumah atau ku katakana pada ayahmu kalau teman-teman satu sekolah mu yang mencibirmu karena perlakuan ayahmu”.

            Akhirnya aku dan adikku mengikuti perintah Xiao.Entah dari mana ia tahu kabar itu tapi jika nanti dia mengaduh pada ayah ini bisa menjadi buruk.Ku buka pintu gudang dibelakang rumah yang gelap dan lembab itu.Gudang usang yang penuh debu dan kotoran serta yang penuh sesak karena barang-barang yan tak terpakai lagi.Memulai membersihkan dan membereskan barang-barang ini dengan niat yang tak ikhlas itu sungguh sulit.Akhirnya dengan berat hati aku dan adikku Hwa memulai membersihkan tempat ini.Ku ambil buku-buku usang dan menyusunnya.Ku rapikan kerdus-kerdus yang berantakan.Hwa yang mulai membersihkan debu-debu dan menyapu lantai gudang.Membereskan lukisan-lukisan usang hingga akhirnya dia menemukan sebuah buku merah yang rapuh dan tua yang bertuliskan “Hujan Turun Di Lockstok”.

“Mei,,,coba kau lihat buku ini,sepertinya menarik”.
            “Kau tahu Hwa buku siapa ini?”.
“Tak tahu tapi disini tertulis “Xie Yin”.Coba kau lihat”.
“Apa??.Xie Yin,,kau tahu Hwa buku siapa ini,ini buku ibu”.
“Benarkah,,,,kita harus membawanya pulang Mei ini satu-satunya kenangan yang kita miliki”.
“Kau benar Hwa,,,ayo kita pulang”.

Buku merah tua yang rapuh itu kami sembunyikan dibalik jaket Hwa.Dikamar kami mulai membuka buku tua itu.Disana ada foto-foto ibu dan surat-surat yang sudah lusuh kertasnya.Bisa melihat wajah cantiknya difoto saja sudah membuat kami menagis bahagia.Sudah sangat lama kami tidak melihat foto-foto ibu.Dihalaman terakhir Hwa melihat sebuah tulisan yang bertuliskan
“Sayang,,,ingatkah kau saat hujan turun di Lockstok.Kau menangis bahagia karena sudah sangat lama tidak melihat hujan.Berlari-lari kecil ditengah taman bunga Lockstok dan bermandikan air hujan.Itu semua masik terekam jelas diingatanku.Sudah sangat lama sekali tak melihat senyum dan tawa mu semenjak kepergian mu ke Constatia.Ingin rasanya melihat senyum dan tawamu lagi.Aku sangat merindukan mu saying cepatlah pulang.Kau tahukan aku tak bisa hidup tanpamu.Kau juga tahu bagaimana jadinyan hidupku tanpa dirimu.Jadi cepatlah selesaikan kuliah mu dan pulanglah kepadaku.Aku mencintai mu saying”.


                                                                                    “Lee Joung”

Surat ayahku untuk ibuku.Itu yang aku tahu setelah mendengar Hwa membacakan tulisan itu.Ayahku yang begitu mencintai ibuku sehingga saat ibu pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya ia pun tak siap.Mungkin itulah yang membuatnya berubah saat ini.Itulah yang bisa kutangkap saat ini.Kepergian ibu yang tak terduga membuatnya tak ingin lagi kehilangan orang yang disayanginya.Tapi mengapa ia mengekang kami,aku pun belum tahu.

***